Sunday, January 29, 2012

Pemantulan Sempurna Pada Serat Optik

Menyambung Postingan sebelumnya

Alasan  utama mengapa Serat Optik dijadikan pilihan terbaik untuk Backbone tak lain adalah karna adanya pemantulan sempurna pada serat Optik.

Cahaya digunakan untuk membawa data melalui serat optik. Sinar cahaya harus dijaga selalu berada di dalam serat optik sampai ke tujuan. Sinar harus tidak dibiaskan ke material yang membungkus serat optik. Pembiasan akan menyebabkan hilangnya sebagian energi dari cahaya tersebut.






Hukum pemantulan dan pembiasan cahaya menggambarkan bagaimana mendesain sebuah serat yang mampu menuntun cahaya melalui serat optik dengan kehilangan energi yang paling minimal. Ada dua kondisi yang harus didapatkan untuk sebuah sinar cahaya pada serat optik agar dapat dipantulkan kembali ke dalam serat optik tanpa kehilangan energi akibat pembiasan yaitu:


  • Inti dari serat optik harus memiliki indeks bias lebih tinggi dari material yang mengelilinginya. Material yang mengelilingi core disebut cladding.
  • Sudut datang dari sinar harus lebih besar dari sudut kritis dari core dan cladding. Sudut datang dari sinar harus lebih besar dari sudut kritis dari core dan cladding. Sudut kritis adalah sudut terbesar yang memungkinkan cahaya akan dibiaskan dan dipantulkan. Ketika kedua kondisi tersebut didapatkan, maka semua sinar datang akan dipantulkan kembali kedalam serat optik. Ini disebut pemantulan sempurna, yang merupakan dasar pembuatan serat optik. Cahaya akan menempuh jalur zigzag didalam core serat optik.
Serat optik yang memenuhi kondisi pertama dapat mudah dibuat. Sebagai tambahan, sudut datang yang masuk ke core serat optik dapat dikontrol. Ada dua faktor yang membatasi sudut datang yaitu:
  • Numerical aperture dari serat (NA), yaitu range dari sudut datang yang masuk ke core dan akan dipantulkan sempurna.
  • Modes, jalur dimana sinar cahaya dapat diikuti ketika masuk ke serat optik.



Dengan mengontrol kedua kondisi tersebut, serat optik akan melakukan pemantulan sempurna.

Mengenal Teknologi Media Cahaya



Pemilihan media transmisi pada dekade saat ini tidak terbatas hanya pada media wired dan media wireless lebih jauh lagi perkembangan media transmisi telah melangkah ke media cahaya .. yang sekarang ini tentu menjadi pilihan terbaik jika bila dijadikan sebagai Backbone suatu jaringan WAN. Untuk iu alangkah lebih baik kita mengenal terlebih dahulu apa itu cahaya

Saya kutip sedikit dari wikipedia: 
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm.[1] Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak. [2][3]
Cahaya adalah paket partikel yang disebut foton.
Kedua definisi di atas adalah sifat yang ditunjukkan cahaya secara bersamaan sehingga disebut "dualisme gelombang-partikel". Paket cahaya yang disebut spektrum kemudian dipersepsikan secara visual oleh indera penglihatan sebagai warna. Bidang studi cahaya dikenal dengan sebutan optika, merupakan area riset yang penting pada fisika modern.
Studi mengenai cahaya dimulai dengan munculnya era optika klasik yang mempelajari besaran optik seperti: intensitas, frekuensi atau panjang gelombang, polarisasi dan fase cahaya. Sifat-sifat cahaya dan interaksinya terhadap sekitar dilakukan dengan pendekatan paraksial geometris seperti refleksi dan refraksi, dan pendekatan sifat optik fisisnya yaitu: interferensi, difraksi, dispersi, polarisasi. Masing-masing studi optika klasik ini disebut dengan optika geometris (en:geometrical optics) dan optika fisis (en:physical optics).
Pada puncak optika klasik, cahaya didefinisikan sebagai gelombang elektromagnetik dan memicu serangkaian penemuan dan pemikiran, sejak tahun 1838 oleh Michael Faraday dengan penemuan sinar katode, tahun 1859 dengan teori radiasi massa hitam oleh Gustav Kirchhoff, tahun 1877 Ludwig Boltzmann mengatakan bahwa status energi sistem fisik dapat menjadi diskrit, teori kuantum sebagai model dari teori radiasi massa hitam oleh Max Planck pada tahun 1899 dengan hipotesa bahwa energi yang teradiasi dan terserap dapat terbagi menjadi jumlahan diskrit yang disebut elemen energi, E. Pada tahun 1905, Albert Einstein membuat percobaan efek fotoelektrik, cahaya yang menyinari atom mengeksitasi elektron untuk melejit keluar dari orbitnya. (WIKIPEDIA)


Kembali ke materi postingan

Ketika gelombang elektromagnetik keluar dari sumber, gelombang tersebut akan menempuh suatu garis lurus. Garis lurus yang keluar dari sumber disebut sinar. 

Pada vacuum, cahaya akan menembus dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik dalam suatu garis lurus. Cahaya akan memiliki kecepatan yang lebih rendah apabila melalui material lainnya seperti udara, air dan gelas. Ketika sinar cahaya melalui batas sebuah material dengan material lainnya, beberapa energi cahaya tersebut akan dipantulkan kembali. Hal ini yang menyebabkan kita dapat melihat bayangan diri kita di cermin. Cahaya yang memantul disebut sinar pantul (reflected ray).
Sudut diantara sinar datang dan garis tegak lurus dengan permukaan sebuah material disebut sudut datang. Garis tegak lurus tersebut disebut garis normal. Sudut diantara garis normal dengan sinar pantul disebut sudut pantul. Hukum pemantulan cahaya menyebutkan bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul.

Energi cahaya yang tidak memantul akan masuk ke material tersebut. Cahaya yang masuk akan dibelokkan dari jalur yang seharusnya. Cahaya ini disebut sinar bias (refracted ray).

Berapa banyak sudut yang terbentuk diantara sinar datang dan sinar bias tergantung pada sudut diantara sinar datang dan permukaan material serta perbedaan kecepatan cahaya ketika cahaya melalui kedua material tersebut. Pembelokan sinar cahaya pada batas diantara dua material tersebut yang menjadi sebab kenapa sebuah cahaya dapat menempuh perjalanan melalui serat optik.
Indeks bias adalah satuan yang menggambarkan besarnya hambatan yang didapat sebuah cahaya ketika menempuh sebuah material. Semakin besar indeks bias maka semakin besar juga penurunan kecepatan cahaya ketika menempuh material tersebut dibandingkan ketika menempuh perjalanan pada vacuum. Rumus menghitung indeks bias adalah sebagai berikut:

Indeks bias = n = kecepatan cahaya pada vacum / Kecepatan cahaya pada material 

Jika sinar datang membentuk 90 derajat terhadap permukaan material maka sinar tersebut akan masuk lurus ke material tersebut tanpa dibiaskan. Jika sinar datang dari material dengan indeks bias lebih tinggi, sinar bias akan menjauhi garis normal, begitu juga sebaliknya.


Tuesday, January 24, 2012

Pertimbangan Kinerja Pada Wide Area Network



Untuk setiap solusi akses-jamak (Jaringan WAN) yang akan diterapkan, haruslah dapat mengukur kinerjanya untuk menentukan apakah penerapan tersebut layak atau tidak layak. Parameter-parameter yang dijadikan rujukan bagi kinerja sebuah sistem akses-jamak adalah:
1.      Throughput ternormalisasi, atau disebut juga sebagai goodput
2.      Delay rata-rata
3.      Stabilitas
4.      Distribusi akses yang merata (fairness)
Goodput atau throughput ternormalisasi, adalah porsi dari kapasitas medium transmisi yang terpakai untuk membawa paket-paket yang tidak perlu ditransmisikan ulang. Paket-paket yang mengalami tabrakan dan berbagai penyebab error lainnya, sehingga harus ditransmisikan ulang, tidak memberikan kontribusi kepada kinerja goodput sistem. Apabila tidak ada paket data yang rusak, karena kemacetan teletrafik atau faktor-faktor lainnya, maka nilai goodput yang ideal adalah 1,0. Sebagian besar protokol dan sistem yang digunakan pada jaringan-jaringan komunikasi masa kini menawarkan goodput antara 0.95 hingga 1,0.
Untuk menentukan nilai goodput, dibutuhkan informasi mengenai parameter-parameter berikut ini:
1.      Kecepatan/bandwidth jalur komunikasi
2.      Ukuran rata-rata paket
3.      Troughput puncak efektif dari medium transmisi yang bersangkutan

Sebagai contoh, akan menghitung suatu goodput dari sebuah jaringan berkecepatan 10 Mbps,dengan ukuran paket rata-rata 125 byte dan troughput puncak sebesar 8500 paket per detik. Nilai-nilai ini dapat diterjemahkan menjadi kapasitas transmisi sebesar 10.000 paket per detik, yang didapatkan dari:
10.000 paket per detik = (10.000.000 bps)/(125 byte/paket x 8 bit/byte)
Pada troughput puncak sebesar 8500 paket/detik, nilai goodput yang didapatkan adalah sekitar 0.85, dengan perhitungan:

            goodput 0.85 = (8500 paket/detik)/(10.000 paket/detik)

Stabilitas sebuah sistem akses-jamak merujuk pada kemampuan sistem tersebut menangani pertambahan trafik tanpa mempengaruhi kinerja trhougputnya. Dengan semakin banyaknya perangkat yang melakukan komunikasi via medium transmisi, kemungkinan terjadinya tabrakan menjadi semakin besar, dan ketika suatu titik jenuh dicapai, sistem menjadi tidak stabil dan tidak lagi dapat digunakan.

Sunday, January 15, 2012

Estimasi Kebutuhan Bandwidth



Estimasi bandwidth untuk jaringan adalah salah satu faktor penting dalam merancang dan memelihara LAN (Local Area Network) atau WAN (Wide Area Network) yang baik selain Network Devide dan teknologi jaringan yang digunakan, karena antara satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi baik dari segi kinerja mapun hasilnya.

Bandwidth adalah salah satu dari elemen-elemen desain jaringan yang biasanya dioptimalkan dengan cara terbaik dengan mengkonfigurasi jaringan secara benar dari terminal luar. Bandwidth mengacu pada data rate yang didukung oleh koneksi jaringan yang terhubung ke jaringan. Bandwidth biasanya diekspresikan dalam istilah bit per secont (bps), atau kadangkala byte per secont (Bps).
Bandwidth jaringan mewakili kapasitas koneksi jaringan, walaupun penting untuk memahami perbedaan antara throughput secara teoretis dan hasil nyatanya. Misalnya, jaringan Ethernet Gigabit 1000BASE-T (yang menggunakan kabel UTP-unshielded twisted-pair) secara teoretis mendukung 1,000 megabit per sekon (Mbit/s), tapi level ini tidak pernah bisa dicapai dalam prakteknya karena perangkat keras (Network Device) dan sistem perangkat lunak yang digunakannya. Inilah yang menjadi tantangan dalam menghitung bandwidth.

Adapun parameter dalam menentukan Estimasi penggunaan Bandwidt adalah:
1.      Jumlah PC Client pada masing-masing distrik
2.      Batas bandwidth yang digunakan
3.  Aplikasi apa saja yang dijalankan, dan bagaimana performa service-level agreement (SLA) untuk aplikasi-aplikasi tersebut.

            Cara untuk memperkirakan seberapa besar kebutuhan bandwidth adalah dengan:
            Bandwidth yang dibutuhkan = jumlah PC(User) x batas bandwidth

Semoga bermanfaat ...

Skema Quality of Service


Masih membahas menganai "Kepuasan" Menyambung postingan sebelumnya tentang apa itu Quality of Service.
Beberapa skema telah diajukan untuk mengelola QoS dalam network IP. Dua skema utama adalah Integrated Services (IntServ) dan Differentiated Services (DiffServ). IntServ bertujuan menyediakan sumberdaya seperti bandwidth untuk trafik dari ujung ke ujung. Sementara DiffServ bertujuan membagi trafik atas kelas-kelas yang kemudian diberi perlakuan yang berbeda. 


1. Integrated Service (IntServ)
IntServ (RFC-1633) terutama ditujukan untuk aplikasi yang peka terhadap tundaan dan keterbatasan bandwidth, seperti videoconference dan VoIP. Arsitekturnya berdasar sistem pencadangan sumberdaya per aliran trafik. Setiap aplikasi harus mengajukan permintaan bandwidth, baru kemudian melakukan transmisi data. Dua model layanan IntServ adalah: 

  1. Guaranteed-service (RFC-2212), layanan dengan batas bandwidth dan delay yang jelas Controlled-load service (RFC-2211), yaitu layanan dengan persentase delay statistik yang  terjaga Layanan ketiga, yang paling jelek, adalah layanan best-effort, yang hanya memberikan routing terbaik,  tetapi tanpa jaminan sama sekali.
  2. Sistem pemesanan sumberdaya memerlukan protokol tersendiri. Salah satu protokol yang sering digunakan adalah RSVP (RFC-2205). Penggunaan RSVP untuk IntServ dijelaskan dalam RFC-2210.
Masalah dalam IntServ adalah skalabilitas (RFC-2998). Setiap node di network harus mengenali dan mengakui mekanisme ini. Juga protokol RSVP berlipat untuk setiap aliran trafik. Maka IntServ menjadi baik hanya untuk voice dan video, tetapi sangat tidak tepat untuk aplikasi semacam web yang aliran trafiknya banyak tapi datanya kecil. 

2. Differentiated Service (DiffServ) 
 
DiffServ (RFC-2475) menyediakan diferensiasi layanan, dengan membagi trafik atas kelas-kelas, dan memperlakukan setiap kelas secara berbeda. Identifikasi kelas dilakukan dengan memasang semacam kode DiffServ, disebut DiffServ code point (DSCP), ke dalam paket IP. Ini dilakukan tidak dengan  header baru, tetapi dengan menggantikan field TOS (type of service) di header IP dengan DS field, seperti yang dispesifikasikan di RFC-2474. Dengan cara ini, klasifikasi paket melekat pada paket, dan bisa diakses tanpa perlu protokol persinyalan tambahan.

Jumlah kelas tergantung pada provider, dan bukan merupakan standar. Pada trafik lintas batas provider, diperlukan kontrak trafik yang menyebutkan pembagian kelas dan perlakuan yang diterima untuk  setiap kelas. Jika suatu provider tidak mampu menangani DiffServ, maka paket ditransferkan apa adanya sebagai paket IP biasa, namun di provider berikutnya, DS field kembali diakui oleh provider. Jadi secara keseluruhan, paket-paket DiffServ tetap akan menerima perlakuan lebih baik. 

DiffServ tidak memiliki masalah skalabilitas. Informasi DiffServ hanya sebatas jumlah kelas, tidak tergantung besarnya trafik (dibandingkan IntServ). Skema ini juga dapat diterapkan bertahap, tidak perlu sekaligus ke seluruh network.


Demikian semoga bermanfaat ... 

Quality Of Service



Saat anda memilih Vendor atau ISP (Internet Service Provider),kira-kira apa yang yang menjadi pertimbangan untuk memilih ISP tersebut ? Hargakah ? Jenis Paket kah ? Kecepatan kah ? ukuran Bandwidth kah ? Banyaknya bonus yang ditawarkankah ?. 

Semua pertanyaan diatas merupakan beberapa pertimbangan untuk mengacu ke pada kenyamanan kita setelah menentukan ISP. Karena semua pertanyaan-pertanyaan diatas juga akan menentukan bagaimana Jaringan yang akan kita buat, akan menentukan bagaimana aplikasi-apalikasi kita "berjalan" dan beroperasi sesuai dengan yang diharapkan, akan menentukan apakah sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa kriteria dari pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan pengertian (menurut saya) dari Quality of Service (QoS), "Mohon koreksinya jika ada salah dan kurang".

Selain itu, kinerja jaringan komputer dapat bervariasi akibat beberapa masalah, seperti halnya masalah bandwidth, latency dan jitter, yang dapat membuat efek yang cukup besar bagi banyak aplikasi. Sebagai contoh, komunikasi suara (seperti VoIP atau IP Telephony) serta video streaming dapat membuat pengguna frustrasi ketika paket data aplikasi tersebut dialirkan di atas jaringan dengan bandwidth yang tidak cukup, dengan latency yang tidak dapat diprediksi, atau jitter yang berlebih. Fitur Quality of Service (QoS) ini dapat menjadikan bandwidth, latency, dan jitter dapat diprediksi dan dicocokkan dengan kebutuhan aplikasi yang digunakan di dalam jaringan tersebut yang ada.(dari Neng Wiki)

Nah bagaimana dengan perusahaan besar yang tentu saja membutuhkan Jaringan WAN untuk berkomunikasi baik yang meliputi antar benua , negara , atau kota, apakah membutuhkan Quality of Servoce dari jaringannya ?. Tentu saja membutuhkan karna pada dasarnya kebutuhan dan keinginan kita dengan perusahaan akan jaminan jaringannya hampir sama, selain itu perusahaan juga membutuhkan jaringan komputernya yang handal, feksibel, dan dengan tingkat keamanannya yang tingggi. Salah satu teknologi yang memiliki fasilitas tersebut biasanya perusahaan besar menggunakan jaringan pribadi dengan kata lain menggunakan Jaringan VPN-IP.

Umumnya QoS dikaji dalam kerangka pengoptimalan kapasitas network untuk berbagai jenis layanan, tanpa terus menerus menambah dimensi network.

Berbagai aplikasi memiliki jenis kebutuhan yang berbeda. Misalnya transaksi data bersifat sensitif terhadap distorsi tetapi kurang sensitif terhadap delay. Sebaliknya, komunikasi suara bersifat sensitive terhadap tundaan dan kurang sensitif terhadap kesalahan.

IP konvensional tidak memiliki mekanisme pemeliharaan QoS. Protokol seperti TCP memang memungkinkan jaminan validitas data, sehingga suite TCP/IP selama ini dianggap cukup ideal bagi transfer data. Tetapi verifikasi data mengakibatkan tundaan hantaran paket. Selain itu mekanisme ini tidak dapat digunakan untuk paket dengan protocol UDP, seperti suara dan video.

Beberapa skema telah diajukan untuk mengelola QoS dalam network IP. Dua skema utama adalah Integrated Services (IntServ) dan Differentiated Services (DiffServ).  
IntServ bertujuan menyediakan sumberdaya seperti bandwidth untuk trafik dari ujung ke ujung. Sementara DiffServ bertujuan membagi trafik atas kelas-kelas yang kemudian diberi perlakuan yang berbeda.


Multiprotocol Label Switching (MPLS)


Multi Protocol Label Switching (MPLS) adalah suatu metode forwarding yang merupakan peningkatan teknik forwarding pada koneksi tradisional didalam perpindahan data paket yang besar. MPLS packets forwarding memiliki tingkat keefisienan yang tinggi yaitu dengan meneruskan data melalui suatu jaringan dengan menggunakan informasi dalam label yang dilekatkan pada paket IP. MPLS menggabungkan teknologi switching layer-2 dengan teknologi routing layer-3. MPLS menyederhanakan routing paket dan mengoptimalkan pemilihan jalur (path) yang melalui core network. MPLS dikatakan sebagai multiprotocol karena teknik ini mampu digunakan untuk lebih dari sekedar network layer protocol.

Hasil penelitian InternetWeek Research memperlihatkan bahwa alasan utama para manajer teknologi informasi (TI) memilih teknologi VPN-IP dibandingkan dengan teknologi lainnya adalah untuk mengurangi biaya komunikasi yang cukup tinggi. Alasan ini merupakan dasar yang kuat bagi manajer TI untuk menggunakan layanan VPN-IP karena tidak perlu waktu berlama-lama untuk mendapat persetujuan dari manajemen. Suatu jaringan idealnya dapat menghubungkan antartitik secara any to any.
Adapun kelompok kerja MPLS yang berada di bawah area routing, di sisi lain mengembangkan mekanisme untuk mendukung higher layer resource reservation, QoS dan definisi perilaku host. Para penyedia jasa biasanya menawarkan salah satu di antara kedua arsitektur jaringan ini berdasarkan kebutuhan pelanggan dan pasar yang dilayaninya.
MPLS melaksanakan fungsi sebagai berikut:
a)      Menghubungkan protokol satu dengan lainnya dengan Resource Reservation Protocol (RSVP) dan membuka Shortest Path First (OSPF).
b)      Menetapkan mekanisme untuk mengatur arus traffic berbagai jalur, seperti arus antar perangkat keras yang berbeda, mesin, atau untuk arus pada aplikasi yang berbeda.
c)      Digunakan untuk memetakan IP secara sederhana.
d)     Mendukung IP, ATM dan Frame-Relay Layer-2 protokol
Berikut adalah hal-hal yang menggambarkan setiap langkah operasi MPLS yang terjadi pada suatu daerah MPLS.
a)      Label creation dan distribution
b)      Label creation at each router
c)      Label switched path creation
d)      Label insertion/ Table lookup
e)      Packet forwarding
a.       Label creation dan distribution :
Di dalam LDP, downstream router memulai pendistribusian label dan label/FEC binding. Sebagai tambahan karakteristik traffic-related dan MPLS kemampuan direncanakan menggunakan LDP. Suatu dapat dipercaya dan perintahkan/memesan protokol pengangkutan harus digunakan untuk protokol pemberian isyarat. LDP creation at each router menggunakan TCP
b.      Tabel creation at each router :
Sesudah menerima dari label binding, masing-masing LSR menciptakan isi Label Information Base (LIB). Bagian-bagian dari tabel akan menetapkan pemetaan antara suatu label dan suatu FEC. Pemetaan antara masukan port itu dan masukan label ke keluaran port dan keluaran label. Masukan diperbaharui kapan saja ketika renegosiasi dari label binding terjadi.

c.       Label switched path creation :
LSPS diciptakan dalam arah yang berlawanan terhadap bagian-bagian LIBs.

d.      Label insertion/ Table lookup :
Penerus pertama menggunakan table LIB untuk menemukan loncatan berikutnya dan meminta suatu label untuk FEC yang spesifik. Penerus yang berikut baru menggunakan label untuk menemukan loncatan berikutnya. Ketika paket menjangkau jalan ke luar LSR, label dipindahkan dan paket disalurkan ke tujuan.
Teknologi semacam ATM memiliki mekanisme pemeliharaan QoS, dan memungkinkan diferensiasi, namun menghadapi masalah pada skalabilitas yang mengakibatkan perlunya investasi tinggi untuk implementasinya.
Di lain pihak, Internet yang dengan protokol IP berkembang lebih cepat. IP sangat baik dari segi skalabilitas, yang membuat teknologi Internet menjadi cukup murah. Namun IP memiliki kelemahan serius pada implementasi QoS. Untuk itu kemudian dikembangkan beberapa metode untuk memperbaiki kinerja jaringan IP, antara lain dengan MPLS.
MPLS merupakan salah satu bentuk konvergensi vertikal dalam topologi jaringan. MPLS menjanjikan banyak harapan untuk peningkatan performansi jaringan paket tanpa harus menjadi rumit seperti ATM. Pada perkembangannya, metode MPLS juga membangkitkan gagasan mengubah paradigma routing di layer-layer jaringan yang ada selama ini, dan mengkonvergensikannya ke dalam sebuah metode, yang dinamai GMPLS.

IPSec adalah prasarana jaringan yang memiliki keamanan tingkat tinggi untuk mengirim data berharga melalui jaringan publik, semisal Internet. Jaringan ini memberikan tingkat privasi dan keamanan data melalui mekanisme tunneling dan pengacakan. Caranya dengan menciptakan lorong (tunnel) antara titik-titik yang hendak dihubungkan.
Arsitektur MPLS hadir untuk mengatasi kompleksitas jaringan IPSec. kebalikan dari jaringan IPSec yang bagus untuk hubungan remote access, keunggulan MPLS justru karena ditempatkan di jaringan inti penyedia jasa. Dari sini QoS, penataan lalu lintas dan penggunaan bandwidth dapat dikendalikan sepenuhnya.
Sesuai namanya, arsitektur MPLS menggunakan label untuk membedakan klien yang satu dengan klien yang lainnya. Di atas jaringan yang sama, titik yang memiliki label yang sama terhubung dan menjadi satu VPN, sehingga tidak perlu lagi menciptakan lorong antartitik.
MPLS memiliki tingkat keamanan yang sangat baik, tidak kalah dari keamanan pada jaringan frame relay maupun ATM. Bagi pelanggan yang sangat mengutamakan keamanan, di perbankan misalnya, tingkat keamanan MPLS ini malah masih dapat ditingkatkan lagi dengan menggabungkan MPLS dengan IPSec.

MPLS Quality of Service
MPLS QoS (Quality of Service) mempengaruhi mekanisme existing dari IP QoS DiffServ, memungkinkan mereka bekerja pada jalur / path MPLS. Extension tertentu, termasuk kemampuan untuk melakukan “set” dan “match” pada bit-bit MPLS EXP telah ditambahkan, meskipun “fundamental behavior” dari mekanisme QoS tetap tidak berubah.
MPLS secara fundamental adalah teknik “tunneling”, jadi mekanisme QoS memungkinkan untuk penerapan yang flexible dengan “tunneling” QoS pelanggan melalui policies QoS dari Service Provider.
Oleh karena itu, Service Provider seharusnya menggunakan nilai EXP 6 untuk voice, dan nilai EXP 4 dan 3 untuk trafik non-voice. Menyediakan transparent services secara simultan untuk Enterprise dengan Maps QoS sebagai berikut :
1)       Menggunakan Prec 3 untuk voice dan Prec 2 untuk trafik non-voice
2)       Menggunakan Prec 5 untuk voice dan Prec 4 untuk trafic non-voice
Penawaran service QoS pada MPLS VPN telah menjadi nilai tambah bagi Service Provider, tetapi penerapan QoS bervariasi antar customer. Beberapa customer membuat hanya 2 class of services - (voice dan non-voice), sementara lainnya membuat sebanyak 5 class:
1.      Best Effort Data
2.      Interactive Data (i.e.,Telnet)
3.      Mission Critical Data (ERP applications; i.e., SAP, PeopleSoft)
4.      Video
5.      Voice

Frame relay


 Nyambung Postingan sebelumnya dan  masing mengenai VPN 

Frame relay merupakan protocol WAN yang mempunyai performance tinggi yang bisa memberikan koneksi jaringan WAN sampai 2,048 Mbps (dan bahkan bisa lebih tinggi) ke berbagai belahan dunia.
Frame relay menggunakan circuit virtual untuk koneksi site-site dan memberikan lebar pita bandwidth berskala yang bisa dijamin (dengan menggunakan apa yang disebut sebagai CIR- committed information rate). Frame relay didesain untuk transmisi digital melalui medium yang sudah handal, yang pada umumnya adalah fiber optic, Berikut ini adalah fitur utama dari frame relay:
1)      Frame relay memberikan deteksi error tapi tidak memberikan recovery error.
2)      Frame relay memberikan transfer data sampai 1.54 Mbs
3)      Frame relay mempunyai ukuran paket yang bervariable (disebut frame)
4)      Frame relay bisa dipakai sebagai koneksi backbone kepada jaringan LAN
5)      Frame relay bisa dimplementasikan melalui berbagai macam koneksi sambungan (56K, T1, T3)
6)      Frame relay beroperasi pada layer physical dan layer Data link pada model OSI

Karena frame relay mengasumsikan medium transmisi yang handal, setiap switch melakukan pemeriksaan error tapi tidak recovery error. Sumber error dari frame relay kebanyakan bukan dari kehilangan paket atau data corrupt, akan tetapi dikarenakan mampetnya jaringan karena kepadatan aliran data. Saat traffic meningkat, switch frame relay mulai merontokkan paket untuk mengejar beban jaringan.
Berikut ini adalah konsep bagaimana data ditransmisikan melalui jaringan frame relay:
1.      Router membuat koneksi ke switch frame relay baik langsung maupun lewat CSU/DSU
2.      Jaringan Frame relay mensimulasikan suatu koneksi “selalu on” dengan PVC
3.      Router pengirim mulai mengirim data segera tanpa membentuk suatu sesi
4.      Switch frame relay melaksanakan pemeriksaan error tapi tidak memperbaiki error tersebut.
5.      Paket yang corrupt akan di jatuhkan tanpa notifikasi
6.      Paket akan menjelajah melalu cloud frame relay tanpa adanya Backnowledgement.
7.      Piranti pengirim dan penerima lah yang akan melakukan koreksi error
8.      Switch frame relay akan mulai menjatuhkan paket jika kemapetan jalur mulai terbentuk
9.      Kebanjiran atau kemampetan jaringanlah penyebab dari kehilangan paket secara umum pada jaringan frame relay.
10.  Paket akan dihilangkan berdasarkan informasi pada bitDiscard Elligable (DE)
11.  Switch frame relay mengirim notifikasi Backward explicit congestion notification (BECN) untuk mengisyaratkan menurunkan rate transfer data.

Jaringan Packet-switched (synchronous serial)

Assalamu alaikum .....

Alhamdulillah .. luar biasa hari ini masih bisa merasakan RAHMAD dan HIDAYAH-MU YA RABB...

Selalu ku doakan buat kalian semua sohib blogger ... semoga tetap dalam lindungan-NYA ..AMIINN...

Postingan pagi ini tentu masih berbicara mengenai seluk beluk JARINGAN KOMPUTER .... Melanjutkan postingan yang sebelumnya tentang Jaringan WAN lebih spesifik ke Jaringan VPN, dan kali ini saya akan sedikit berbagai mengenai salah satu teknologi VPN-WAN yang termasuk ke dalam pembagian Arsitektur VPN Host-ti-Gateway.
Jaringan packet-switched tidak memerlukan sambungan tersendiri atau sambungan cadangan sementara. Sebaliknya jenis jaringan packet-switched ini memungkinkan jalur paket data diset secara dinamis ketika data mengalir melalui jaringan. Jenis koneksi jaringan ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.      Message dipecah kedalam paket-paket
2.      Paket-paket menjelajah secara independen melalui interjaringan (yaitu mengambil jalur yang berbeda)
3.      Pada sisi penerima paket-paket di assembling ulang pada urutan yang tepat
4.      Piranti pengirim dan penerima mengasumsikan suatu koneksi yang ’selalu on’ (tidak memerlukan dial-up)
Jenis koneksi jaringan WAN ini menggunakan permanent virtual circuit (PVC). Walaupun suatu PVC terlihat terhubung langsung – jalur WAN tersendiri, jalur yang diambil setiap paket melalui inter-jaringan dapat berbeda.
Adapun yang termasuk ke dalam jaringan yang bertipe synchronous serial adalah : 
  1. Frame Relay (Penjelasan lebih lanjut Klick disini)
  2. MPLS (Penjelasan lebih lanjut Klick disini)



Konfigurasi VLAN


Postingan kali ini menyambung postingan sebelumnya ,kita akan mencoba mengkonfigurasi VLAN menggunakan aplikasi Cisco Packet Tracer, dengan menggunakan 1 buah Router yang dimana interface pada Router ini akan disubinterfacekan,.


Konsep utama dari VLAN ini adalah dengan cara menempatkan data berdasarkan penempatan port." Fitur VLAN terdapat pada Switch yang manageable contoh : Switch Cisco Catalyst VLAN ini berfungsi untuk mengelompokan/mengsegmentasi suatu jaringan menjadi lebih kecil untuk mengurangi beban kerja Switch tersebut .

berikut adalah Skema Jaringan VLAN pada Cisco Packet Tracer



LANGKAH-LANGKAH DAN SKEMA:

  • Hubungkan fa0/0 pada Router ke fa 0/1 pada Switch menggunakan Straight, karena port fa0/1 yang akan ini akan bekerja sebagai TRUNK
  • Hubungkan hub pada setiap VLAN ke Switch berdasarkan nomor VLAN untuk memudahkan konfigurasi
contoh :
Hubungkan VLAN 2 hubungkan ke Switch Fa0/2
hub VLAN 3 hubungkan ke Switch Fa0/3
hub VLAN 4 hubungkan ke Switch Fa0/4
hub VLAN 5 hubungkan ke Switch Fa0/5

Skema IP Jaringan

VLAN 2
IP Network 192.168.2.0/24
IP host = 192.168.2.2 - 255

VLAN 3
IP Network 192.168.3.0/24
IP host = 192.168.3.2 - 255

VLAN 4
IP Network 192.168.4.0/24
IP host = 192.168.4.2 - 255

VLAN 5
IP Network 192.168.5.0/24
IP host = 192.168.5.2 - 255

KONFIGURASI PADA ROUTER

Router>en
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Mengaktifkan Interface FastEthernet 0/0
Router(config)#interface fa0/0
Router(config-if)#no shutdown -> untuk menghidupkan interface fa0/0 yang akan di subinterfacekan
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Router(config-if)#ex

= Konfigurasi Sub-Interface untuk VLAN 2
Router(config)#interface fa0/0.2 -> membuat Subinterface untuk VLAN 2
Router(config-subif)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0.2, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.2, changed state to up
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 2 -> sebuah enkapsulasi yang disesuai kan dengan nomor VLAN
Router(config-subif)#ip address 192.168.2.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#no shut
Router(config-subif)#ex


= Konfigurasi Sub-Interface untuk VLAN 3
Router(config)#interface fa0/0.3
Router(config-subif)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0.3, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.3, changed state to up
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 3
Router(config-subif)#ip address 192.168.3.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#no shut
Router(config-subif)#ex


= Konfigurasi Sub-Interface untuk VLAN 4
Router(config)#interface fa0/0.4
Router(config-subif)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0.4, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.4, changed state to upen
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 4
Router(config-subif)#ip address 192.168.4.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#no shut
Router(config-subif)#ex


= Konfigurasi Sub-Interface untuk VLAN 5
Router(config)#interface fa0/0.5
Router(config-subif)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0.5, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.5, changed state to up
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 5
Router(config-subif)#ip address 192.168.5.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#no shut
Router(config-subif)#



KONFIGURASI PADA SWITCH MANAGEABLE

Switch>en
Switch#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.


= Konfigurasi interface fa0/1 pada Switch
Switch(config)#interface fa0/1
Switch(config-if)#switchport mode trunk -> perintah untuk memfungsikan port fa0/1 sebagai port trunk sebagai jalur paket menuju Router
Switch(config-if)#
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Switch(config-if)#ex


= Konfigurasi interface fa0/2 pada Switch
Switch(config)#interface fa0/2
Switch(config-if)#switchport mode access -> perintah untuk memfungsikan fa0/2 sebagai port access
Switch(config-if)#switchport access vlan 2 -> untuk memfungsikan port fa0/2 sebagai jalur komunikasi VLAN 2
% Access VLAN does not exist. Creating vlan 2
Switch(config-if)#ex


= Konfigurasi interface fa0/3 pada Switch
Switch(config)#interface fa0/3
Switch(config-if)#switchport mode access
Switch(config-if)#switchport access vlan 3
% Access VLAN does not exist. Creating vlan 3
Switch(config-if)#ex


= Konfigurasi interface fa0/4 pada Switch
Switch(config)#interface fa0/4
Switch(config-if)#switchport mode access
Switch(config-if)#switchport access vlan 4
% Access VLAN does not exist. Creating vlan 4
Switch(config-if)#ex


= Konfigurasi interface fa0/5 pada Switch
Switch(config)#interface fa0/5
Switch(config-if)#switchport mode access
Switch(config-if)#switchport access vlan 5
% Access VLAN does not exist. Creating vlan 5
Switch(config-if)#
Switch#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

Setelah selesai konfigurasi, jangan lupa memberikan alamat IP ke setiap PC pada setiap VLAN
kemudian, tes jaringan VLAN ini dengan perintah ping
dari setiap pc ping ke alamat gateway
dari setiap pc ping ke pc pada VLAN lain .
Related Posts : cisco


*Infokom'08
 
© Copyright 2035 mas Joko
Theme by Yusuf Fikri